Inspirasi Rumah yang Nyaman dan Mewah

Posted on

Inspirasi Rumah yang Nyaman dan Mewah

Rumahnya memang nyaman dan sangat luas. Luas rumahnya 1.000 meter persegi di atas lahan 2.600 meter persegi. Meski sangat luas, Chicha menata setiap sudut rumah dengan sepenuh hati, lewat pemilihan warna-warna natural yang hangat. Kehangatan tersebut juga kami rasakan saat berkunjung ke rumah pemilik lagu Helli ini. Selain muncul melalui warna rumah yang membumi, di antaranya coklat, krem, dan abuabu, kehangatan pribadi sang nyonya rumah juga turut andil di dalamnya. Kami masuk lewat satu dari sekian banyak pintu kaca di rumah ini. “Rumah ini memiliki banyak sekali pintu yang setiap pagi kami buka semua untuk menikmati udara segar. Daerah ini masih berkabut di pagi hari loh, sejuk banget!” seru Chicha. Halaman depan yang luas, dengan rumput dan pepohonan, menambah kesejukan udara sekitar rumah Chicha.

Dibeli pada 1992, ternyata rumah dua lantai tersebut baru dihuni keluarga Chicha pada 2006. “Dulu saya selalu bertanya kapan kami 1 Jatuh cinta pada desain Hotel Dharmawangsa, suami Chicha mengadopsi desain tersebut pada rumahnya. 2 Di balik ruang leyeh, ada cermin dan meja konsol sebagai pemajang fotofoto keluarga Chicha. 3 Di sudut ruang leyeh, ada grand piano yang suka dimainkan anak pertamanya. Karpet merah, warna kesukaan Chicha, menghiasi sekitar piano 4 Duduk selonjor berhadapan, mengobrol sambil menikmati pemandangan luar, kegiatan di ruang leyeh, favorit Chicha dan suaminya. menikah. Dan selalu jawaban suami, dulu pacar, nanti setelah punya rumah. Namun setelah membeli rumah ini, belum juga kami menikah. Bahkan syaratnya jadi bertambah, jika sudah punya mobil dan jika tabungan sudah cukup,” kata Chicha. Chicha pun akhirnya menikah dengan Andi Indra Jakile pada 1998, saat ketiga syarat telah terpenuhi, namun tingal di rumah lain. Sedangkan rumah ini disewakan selama beberapa tahun. “Waktu itu, rumah ini jadi seperti ATM kami,” kata putri dari Nomo Koeswoyo dan Fatimah Francis ini. Jatuh cinta pada desain Hotel Dharmawangsa, suami Chicha mengadopsi desain tersebut pada rumahnya. Setelah melakukan beberapa renovasi, di antaranya menambahkan kolam renang, Awal menghuni rumah di 2006, halaman depan seketika menjadi favorit kedua anak Chicha. Area hijau yang luas tersebut menjadi taman bermain dan lapangan bola bagi kedua anaknya yang saat itu sedang aktif.

“Terutama anak pertama saya, Abi, yang suka mengajak teman-teman sekolah dan anak-anak tetanga belakang rumah untuk bermain bola di sini,” cerita ibu dari Andi Abi Jakile dan Andi Naya Jakile ini. Lokasi rumah yang berdekatan dengan permukiman rakyat dimanfaatkan Chicha untuk memberi pelajaran hidup pada kedua anaknya. “Saya suka mengajak Abi dan Naya berjalan kaki melewati permukiman menuju supermarket. Mengajari mereka untuk banyak bersyukur karena halaman depan rumah kami saja bisa untuk membangun beberapa unit rumah sederhana. Agar mereka juga menghargai apa yang sudah ayah mereka cari dan bisa mengembangkannya,” kata sulung dari tiga bersaudara ini. Selain halaman berumput, kolam renang mengisi eksterior rumah Chicha. Kedua area tersebut menjadi pemandangan dari seluruh ruang dalam rumah karena dindingnya didominasi jendela dan pintu kaca transparan. Teras menjadi perantara antara eksterior dan interior. Berbagai jenis dudukan, ada kursi betawi, sofa rotan modern, juga meja kursi rotan jawa, jadi pilihan di beberapa area duduk di teras. “Di malam hari, saya dan suami suka duduk di sini. Melihat musang lewat di atas pagar dan mendengarkan kodok kawin,” kata Chicha. Ruang tamu, ruang televisi, ruang santai, ruang makan dan pantry, mengisi lantai dasar. Ruang televisi menjadi ruang pertama setelah memasuki pintu utama.

 

Sofa krem keabuan merupakan furnitur pilihan suami Chicha untuk ruang ini. “Saya bagian dekorasinya, yaitu cermin dekoratif di dinding, dan tanaman hijau,” kata pemilik nama lengkap Mirza Riadiani Koeswoyo ini. Tanaman indoor merupakan hobi baru Chicha. “Suami sempat kurang setuju. Katanya kami akan berebutan oksigen dengan tanaman. Saya jelaskan jika pulang kantor paling kami makan lalu mengobrol sebentar kemudian naik ke kamar. Saat itu biarkanlah tanaman menarik oksigen buat mereka sendiri. Akhirnya suami menyerah,” ujar Chicha. Dibatasi meja konsol yang tingi, ada ruang santai yang merupakan ruang favorit Chicha dan suami. Ruang ini lebih berwarna dan ramai oleh dekorasi tataan Chicha, di antaranya aneka bingkai foto, bantal hias, dan kain tenun yang disampirkan di sofa. “Saya menyebutnya ruang leyeh. Di sofa besar tersebut kami berdua selonjor berhadapan, mengobrol sambil menikmati pemandangan luar,” kata personil Koes 2nd Generation tersebut. Meja kayu di ruang ini merupakan kreasi Chicha. “Ini adalah meja alat tenun. Bagian tengahnya saya angkat, ganti kaca,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 1 Mei 1968 ini. Di sudut ruang, ada grand piano yang suka dimainkan anak pertamanya. Karpet merah, warna kesukaan Chicha, menghiasi sekitar piano.

 

Di balik ruang leyeh ada cermin dan meja konsol sebagai pemajang foto-foto keluarga. Area yang dilengkapi meja bundar ini menjadi perantara menuju tanga dan ruang makan. Ruang makan yang tak bersekat dengan pantry, pun ruang favorit Chicha. “Di ruang inilah saya dan suami memanfaatkan waktu berkualitas untuk bonding dengan anak-anak. Kebetulan Abi dan Naya juga suka masak, dan mereka siap memasak jika saya sedang tidak pengin masak,” kata Chicha. Lukisan menghiasi dinding ruang makan, juga dinding area tangga. Jika di ruang makan ada lukisan kontemporer, dinding area tanga dihiasi lukisan wajah Chicha, Abi, dan Naya, yang berukuran besar. “Lukisan wajah suami masih proses pembuatan,” kata Chicha. Tanga kayu menjadi akses menuju lantai atas, yang merupakan area privat, hanya berisi kamar tidur utama dan dua kamar anak. “Orang kalau bertamu selalu mengira rumah ini kamarnya banyak, padahal sedikit. Sejak awal suami memang hanya menyiapkan dua kamar anak dan satu kamar tidur utama. Karena dia berencana memiliki dua anak saja, lakilaki dan perempuan. Alhamdulillah terwujud sesuai keinginannya,” kata Chicha. Sepakat akan jumlah kamar, namun tidak dengan penataan rumah. “Untuk menyocokkan selera kami berdua butuh waktu. Namun akhirnya saya yang menang karena saya yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah,” kata Chicha. Ada beberapa hal yang masih ingin diubah Chicha, di antaranya meniadakan vitrase di jendela. “Bagi saya, menata rumah seperti hidup, berproses,” ujarnya sambil tertawa. Nyaman buat semua angota keluarga, itu keinginan Chicha akan rumahnya. “Saat anakanak merasa nyaman pulang ke rumah, menjadi kebangaan tersendiri bagi saya. Itu berarti kami, ayah bundanya, berhasil memberikan kenyamanan buat mereka,” kata Chicha.

Author Bio

Gravatar Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *